Melihat Sekilas Borneo

Membaca sekilas tiga buku yaitu: “Indonesia Manusia dan Masyarakatnya” Judit Shaw 1987., “Ayo ke Tanah Sabrang: Transmigrasi di Indonesia” Patrice Levang 2003. “.,” Maneser Panatau Tatu Hiang: Menyelami Kekayaan Leluhur” Nila Riwut 2003, mengingatkanku akan pertanyaan seorang sahabat , “Setelah tanah ini dieksploitasi dan sumber alamnya sudah habis, lalu harus bagaimanakah kami penduduk asli di situ ke depannya?”

Pertanyaan itu tak mungkin bisa dijawab dalam sehari karena memang eksploitasi yang terjadi di sana sudah ratusan tahun dan sekarang adalah dampak atau hasil dari proses yang sedang berjalan. Kalimantan merupakan simpang empat bagi kebudayaan di jaman prasejarah dan jaman sejarah awal. Di jaman Neolit, pendatang dari Cina membawa barang-barang kesenian dan teknologi Dinasti Chou dan kebudayaan Cina -Vietnam Dongson yang telah mempengaruhi seluruh bagian barat Indonesia. Inskripsi-inskripsi Sansekerta dari sekitar tahun 400 M membuktikan pengaruh Hindu di Kalimantan Timur. Besar kemungkinannya daerah ini dahulu menjadi pusat perdagangan pada jalur yang banyak dilalui antara Cina, Filipina, dan Kerajaan Majapahit di Jawa. Banyak barang perunggu dan porselen gaya Dinasti Chou diketemukan di Kalimantan, dan di daerah pedalaman gong perunggu gaya Cina menjadi alat pembayaran, terutama untuk mahar pada perkawinan.
Di Kalimantan terdapat tiga kelompok etnik utama: Kelompok keturunan Melayu di pesisir, ialah kelompok pendatang baru yang beragama Islam dan tinggal di kota-kota dan tempat tempat kecil di muara sungai; Kelompok Etnik Cina yang menguasai perdagangan di Kalimantan sejak berabad-abad ; dan Suku Dayak, penduduk asli Kalimantan. Kata “Dayak” dipakai untuk menyebut lebih dari dua ratus suku sakat di pedalaman. Semula mereka tinggal di pantai, tetapi kemudian terdesak semakin jauh ke pedalaman oleh pendatang Melayu. Mereka tinggal di tepi sungai dan dataran-dataran tinggi , jauh di dalam rimba dan hidup dengan cara yang tak jauh berbeda dari nenek moyang mereka di Jaman Neolit. Kebudayaan suku-suku Dayak berbeda satu dengan yang lainnya namun tetapi umumnya berpusat pada Lamina tau Rumah Panjang.
Kalimantan telah berubah sejak pertengahan abad ini. Banyak kebudayaan Dayak lama mulai hilang atau akan hilang. Upacara-upacara sudah berkurang, dan adat atau tradisi telah mulai berkurang karena pengaruh Agama Islam dan Kristen. Tuak, sejenis minuman yang dibuat dari nira, yang diminum pada upacara atau tarian-tarian oleh misionaris Protestan dilarang. Tanpa minuman itu, upacara dan tarian tidak berlangsung. Pemerinath dan misionaris juga telah menganjurkan, agar kehidupan di rumah panjang ditinggalkan, karena kurang sehat dan dapat menyebarkan penyakit. Desa-desa bergaya Jawa dibangun untuk menggantikan rumah panjang, akan tetapi kebudayaan Dayak yang berpusat pada rumah panjang di desa-desa ini tidak bertahan.
Kayu merupakan barang dagangan penting di Kalimantan, dan kekayaan akan kayu keras adalah hikmah tetapi sekaligus juga petaka. Penebangan pohon secara liar menyebabkan erosi hebat di beberapa daerah, dan walaupun telah dilakukan kembali penghutanan, tampaknya akan dibutuhkan beberapa dasawarsa lagi sebelum hutan-hutan itu pulih. Penebangan kayu juga telah mengganggu pola pembiakan serta memusnahkan lingkungan hidup binatang langka. Belakangan ini pemerintah telah mengambil langkah-langkah dengan membatasi penebangan dan melindungi hutan serta penghuninya, namun pencurian kayu maupun pemburuan binatang amat mudah dilakukan, dan melihat luasnya hutan, sukar sekali untuk diawasi.
Di dekat Balikpapan, yang juga terkenal dengan “kota minyak” terdapat sumber gas alam yang sangat kaya. Beribu-ribu orang asing dan orang Indonesia dari pulau-pulau lain datang untuk bekerja di Balikpapan dan Badak, dekat Balikpapan tempat penyulingan besar. Perbedaan kehidupan antara pendatang dan penduduk setempat sangat menyolok. Masuknya penduduk pantai dan pedagang ke hulu sungai telah menyebabkan lunturnya kebudayaan Dayak. Seperti dahulu, apabila menghadapi desakan dari luar, Orang Dayak mundur lebih jauh ke pedalaman, ke bagian-bagian yang belum terjamah orang luar (Judith Shaw, 1987: 111-114).
Selain secara alami karena Kalimantan memiliki sumber daya ekonomi yang tinggi seperti kayu, minyak bumi, gas alam, dan batubara, Kalimantan juga menjadi tujuan program transmigrasi yang dilakukan pemerintah. Seperti yang ditulis Patrice Levang berikut:
Daerah tujuan transmigrasi berubah dari waktu ke waktu. Pada zaman Kolonisatie, penempatan migran terutama dilakuakn di ujung selatan Pulau Sumatra, yakni Gedong Tataan (1905), Wonosobo (1921), Metro (1935), dan Belitang (1937). Migran yang ditempatkan di Sulawesi dan Kalimantan hanya berkisar 13,5% dari jumlah seluruh migrant sampai dengan tahun 1940. Sejak tahun 1976, Kalimantan lama-lama menggantikan dengan proporsi yang sama besarnya dengan Sumatra dan Sulawesi. Terakhir walaupun menimbulkan banyak polemik, transmigrasi ke Irian Jaya benar-benar baru dimulai pada tahun 1979 dan hanya mencapai 4,5% dari jumlah seluruh transmigran.
Pusat begitu yakin akan kelebihan polanya sehingga tidak dapat membayangkan bahwa mungkin saja polanya ditolak. Misalnya para transmigran diharapkan akan mengajarkan teknik pertanian intensif kepada penduduk setempat. Karena terpukau akan hasil yang diperoleh, penduduk setempat tentunya akan menyebarluaskan teknik modern itu sampai ke desa mereka. Lama kelamaan pertanian modern tentunya akan menggeser cara kuno yang masih dilakukan di luar Jawa.
Dari segi penyuluhan pertanian, adakalanya transmigran memperoleh hasil yang tidak diinginkan. Pada proyek lahan kering di Kalimantan, misalnya, sering transmigran Jawa bergabung dengan orang Dayak untuk merambah hutan. Di Kalimantan Selatan transmigran Jawa meninggalkan pertanian untuk mendulang emas dan intan seperti penduduk asli Banjar. Pada proyek pasang surut banyak transmigran meniru teknik pertanian tradisional Banjar dan Bugis. Anehnya justru di wilayah transmigran yang kurang berhasil, integrasi transmigran dengan penduduk asli tampak yang paling padu (Levang, 2003: 25-31)
Selain pandangan kedua tokoh di atas, Nila Riwut yang merupakan keturunan Orang Dayak punya pendapat yang lain tentang Kalimantan:
Niat membuka Dayak reservaten, sepanjang yang tertulis, memberikan perlindungan kepada Suku Dayak agar dapat memiliki tanah perladangan yang cukup. Di samping itu tidak dapat dipungkiri bahwa bentuk Dayak reservaat adalah sejalan dengan politik colonial yang ingin memecah belah bangsa Indonesia dengan jalan memisahkan golongan satu dengan lainnya.
Sebenarnya Dayak reservaat, sama artinya dengan Orang Dayak dijadikan tontonan, maksudnya dimasukkan ke dalam lemari kaca, kemudian dijadikan tontonan pihak lain. Dunia luar menyangka mereka mendapat perlindungan, kenyataan mereka tetap sebagai golongan masyarakat terendah yang tidak mendapatkan layanan dan bimbingan yang layak sebagai rakyat. Disamping itu harus juga diakui bahwa sebenarnya Dayak reservaat adalah batas dari hutan cadang dan tanah perkampungan, sehingga, apabila batas tersebut dengan begitu saja ditiadakan, mungkin tanah-tanah yang ada di situ dalam waktu singkat, akan berubah menjadi padang alang-alang. Kemudian hutan cadang akan habis musnah, sehingga kemungkinan bencana banjir akan lebih besar.
Penduduk yang mendiami Dayak reservaat ini, taraf pendidikan dan pengetahuan akan dunia luar sangat minim. Hal ini dapat dimengerti karena sejak dulu tidak pernah mendapatkan bimbingan yang layak. Dikhawatirkan adanya perbedaan yang menyolok antara penduduk yang mendiami Dayak reservaat dengan penduduk yang diam di luar Dayak reservaat. Dikhawatirkan pula bila daerah Dayak reservaat dihapuskan dan penduduk yang mendiami daerah tersebut tidak mendapatkan perlindungan yang wajar, maka mereka akan mengadakan perpindahan besar-besaran untuk masuk lebih dalam ke pedalaman, Akibatnya, banyak pihak yang akan dirugikan.
Pada masa kolonial telah dilaksanakan usaha untuk mengintensifkan pemerintah daerah Dayak reservaat dengan jalan menempatkan pegawai-pegawai Dayak di daerah tersebut. Usaha ini mengalami kegagalan, karena pegawai-pegawai yang ditempatkan tersebut hanya diberi tugas sebagai penjaga pintu. Maksudnya agar tidak ada suku lain yang masuk dan berladang di daerah tersebut. Pada prinsipnya Dayak reservaat , tidak perlu lagi dipertahankan, karena akan menghambat kemajuan dan perkembangan daerah itu sendiri. Dengan mengumpulkan suku-suku yang ada di sekitarnya, misalnya Suku Dayak Bukit, Dayak Balangan,dibuat suatu kampung baru yang sehat, terarah,dan dipimpin oleh pemerintah daerah yang cakap, berpandangan luas dan berwibawa. Dengan demikian, diharapkan kebiasaan penduduk untuk berpindah-pindah tempat tingga, akan lenyap secara bertahap.
Cara memilih daerah yang layak untuk dijadikan kampung baru, dengan dibentuk panitia khusus dengan tugas mengadakan perundingan-perundingan dengan kedua suku, untuk menentukan tempat paling sesuai untuk dijadikan kampung baru bagi mereka. Dalam hal ini jangan dilupakan untuk melibatkan ahli pertanian. Satu tantangan lagi, bukan hal mudah meyakinkan kedua suku itu bahwa ldaerah baru yang akan mereka huni akan lebih menguntungkandan mensejahterakan mereka, dalam hal ini tentu saja dibutuhkan kemampuan khusus.
Tanah bekas Dayak reservaat sebaiknya direhabilitasi, dan tentu saja butuh dana tidak sedikit dari pemerintah, namun hal tersebut perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya pembukaan hutan-hutan baru. Mengingat bahwa Indonesia adalah negara agraris, maka pada saat Dayak Reservateen dibuka maka amat bijaksana apabila pemerintah menetapkan suatu peraturan untuk mengatur tanah kosong yang ada di dalam daerah Dayak Reservateen, sama seperti dilakukan sekarang dengan tanah elpacht Kelayan, dengan ketentuan bahwa bagi mereka yang telah mempunyai tanah, baik di dalam maupun di luar Dayak reservateen, izin tidak diberikan. Menurut hemat penulis apabila Dayak reservaat dihapuskan, harus dilaksanakan dengan bijaksana dank arena masalah ini dianggap hal penting, maka pelaksanaannya harus dengan cara yang hati-hati. (Nila Riwut, 2003: 108-109) (By: Septa Agung Kurniawan)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: