Aksi Gila Berbuah Anugerah (By: Sukmono Fajar Turido)

Mahyiddin alias Dodent berjuang merehabilitasi terumbu karang di pesisir Aceh. Tanpa bantuan dana pemerintah dan funding dunia. Menggerus kocek sendiri hingga Rp 800 juta untuk menanam 26 spesies karang.

Di Istana, mata Mahyiddin berkaca-kaca. Dodent, demikian laki-laki kelahiran Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam, pada 1 Juli 1952 itu biasa dipanggil, berjabat tangan erat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Selasa dua pekan lalu, dia menerima replika pohon kalpataru, sebagai penghargaan atas perjuangannya melestarikan lingkungan hidup. Ia dianggap sebagai pendekar lingkungan lantaran berjuang merehabilitasi terumbu karang di kawasan Taman Nasional Pulau Weh, Nanggroe Aceh Darussalam.

Melalui plakat Kalpataru itu, Dodent berharap agar masyarakat sepanjang garis pantai diperhatikan. Bapak tujuh orang anak itu datang ke Istana hanya ditemani oleh Lukman, Ketua Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kota Sabang. Tidak ada rombongan besar, sebagaimana penerima anugerah yang lain.

Dodent sebenarnya sudah dinominasikan untuk memperoleh anugerah Kalpataru sejak 1998, atas rekomendasi dari Syamsuddin Mahmud, Gubernur Aceh kala itu. ”Tetapi saya tidak mengurus surat-surat administratif, sebab penghargaan itu bukan target saya,” tuturnya.

Pasca-musibah tsunami Aceh pada 2004, Dodent memutuskan untuk ”bersepakat” menerima anugerah Kalpataru dari pemerintah. ”Karena persoalan pesisir pasca-tsunami semakin besar, dari situ saya lalu bergerak habis-habisan. Saya setuju mendapat Kalpataru agar isu pesisir bisa diangkat,” ujarnya.

Toh, saat Dodent menerima plakat Kalpataru, ternyata kenyataan tidak sejalan dengan harapan yang ia gadang-gadang sejak berangkat dari kampungnya di Aneuk Laot, Sukakarya, Kota Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam. ”Pengarahan dari presiden, Menteri Kehutanan, dan Menteri Lingkungan Hidup tidak menyentuh masalah masyarakat pesisir. Orientasinya cuma ke darat, yakni menanam pohon atau mangrove untuk mengantisipasi global warming,” kritiknya.

Dodent merasa aneh jika orientasi pemerintah selalu tertuju pada wilayah daratan, sementara Indonesia adalah negara kelautan. Kini, menurut Dodent, yang berkuasa di laut kita adalah Jepang, Thailand, Malaysia, dan lainnya. Isu daerah pesisir pun tenggelam oleh hiruk pikuk isu politik. Inilah yang menyebabkan masyarakat pesisir tetap berada dalam garis kemiskinan. ”Saya memperbaiki taman laut Indonesia, tapi menterinya tidak pernah peduli,” ujarnya, menggambarkan aktivitas konservasi di kawasan Taman Nasional Pulau Weh.

***

Sejak 1965, sembari menekuni profesi sebagai nelayan, Dodent memulai aktivitas perlindungan ekosistem terumbu karang di sekitar perairan Sabang. Dengan modal handy talkie dan transistor sederhana di kapal ikannya, Dodent menyusupi sistem komunikasi kapal pukat harimau yang mencari ikan perairan Sabang.

Sebetulnya Dodent hanya mengajak berkomunikasi dan mengingatkan mereka. Namun oleh kapal-kapal ilegal tersebut, ia dikira sebagai petugas keamanan. ”Sehingga mereka langsung kabur,” ungkapnya. Selain ilegal, kapal-kapal berbendera Singapura yang sering dijumpai Dodent kerap menebarkan bom dalam area penangkapan ikan, sehingga merusak terumbu karang.

Jurus “menghalau” kapal-kapal pukat harimau untuk melindungi ekosistem perairan Sabang itu dilakoni Dodent seorang diri hingga tahun 1970-an, hingga ia bekerja sebagai operator boat di perusahaan asing. Selama menemani ekspatriat selama lima tahun, Dodent memperoleh ilmu dan pengalaman penting yang kelak menghantarkan plakat Kalpataru ke tangannya. ”Saya akhirnya tahu bahwa karang bisa dibudidayakan,” kata Dodent.

Bosan bekerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain, di antaranya perusahaan pelayaran berbendera Panama yang berkeliling dari Pukhet-Sri Lanka-Tandibar-Laut Merah-Maldiv-Madagascar-Ya

man-Sudan-Mesir hingga menjadi rimbawan di Departemen Kehutanan, Dodent akhirnya kembali ke kampungnya pada 1986.

Ia lalu membuka Rubiah Divers Shop’ dengan modal terbatas. Di Jakarta, Dodent sempat membeli kamera bawah air, yang kemudian digunakan untuk memotret memotret keindahan bawah laut perairan Sabang. Berbekal hasil jepretan itulah Dodent membangun usahanya perlahan-lahan. I

Ia manawarkan paket wisata selam kepada para ekspatriat Eropa Barat yang bekerja di PT Arun. Walhasil, mereka kemudian lego jangkar, tidak perlu jauh-jauh menyelam ke Pukhet. Ternyata taman laut Sabang lebih eksotis. ”Akhirnya saya bisa beli satu peralatan selam lengkap,” ujarnya.

Sembari menjalankan usahanya, Dodent tetap menjalankan misi pelestarian lingkungan. Kali ini, Dodent mengajak wisatawan yang dipandunya merobek jala kapal-kapal asing yang kedapatan berburu ikan hias di perariran Sabang. Atas aksinya ini, Dodent tak jarang mendapat teror, hujatan dan jemput paksa dari aparat keamanan setempat.
***

Musibah tsunami di Aceh pada akhir 2004 mengubah segalanya. Gelombang tsunami yang menerjang Sabang hanya menyisakan 25 tabung gas yang baru malam sebelumnya diisi. ”Dua kapal hilang dan empat motor tempel semuanya berlayar tak pulang lagi,” ujarnya mengenang masa-masa sulit itu.

Begitu menyadari dahsyatnya musibah Desember 2004, Dodent kemudian menggerakkan karyawannya untuk melakukan underwater cleaning. Selama 22 hari mereka membersihkan sampah tsunami di Selat Rubiah. Enam hari pertama, bolak-balik dari Sabang-Aceh mengangkut sampah-sampah tsunami menggunakan kapal Dodent yang tersisa. ”Karena waktu itu tidak ada kapal feri,” ia mengisahkan.

Selama aksi filantropis itu, Dodent menggaji 20 orang sukarelawan. Masing-masing dibayar 50.000 per hari. Satu hari dua kali menyelam, membersihkan dasar laut dari sampah-sampah tsunami menggunakan tabung gas Dodent yang tersisa.

Pada masa rekonstruksi dan rehabilitasi pasca-tsunami Aceh, Rubiah Divers Shop mendapat tambahan order sebagai perusahaan penyedia jasa angkutan dan fasilitas pengawasan karang oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam dan luar negeri. ”Kami dapat penghasilan dari membantu NGO dalam pemantauan karang,” ujar Dodent. Namun ia mengkritik UNESCO, karena lembaga PBB itu hanya melakukan monitoring tanpa membudidayakan karang.

Dodent semakin geregetan lantaran tidak ada blueprint dari pemerintah pusat dan daerah untuk penyelamatan terumbu karang yang rusak. ”Saya memutuskan memulai menanam terumbu karang pada Januari 2006,” katanya. Awalnya Ia menggunakan uang hasil sewa jasa ke lembaga-lembaga internasional yang datang ke Aceh. Di waktu luang, ketika tidak ada wisatawan, Dodent menggerakkan 16 tenaga selamnya untuk membantu menanam karang di sepanjang Selat Rubiah dengan imbalan Rp 50.000 per orang. ”Itu di luar gaji mereka sebagai tenaga selam di Rubiah Divers Shop,” kata Dodent.

Untuk menutup kekurangan biaya, Dodent ”mengemis” ke berbagai lembaga, namun upayanya sia-sia. ”Itu kan pekerjaan yang gila,” Dodent menirukan pendapat masyarakat waktu itu. Maklum, menanam karang berbeda dengan menanam mangrove. Mangrove bisa dilihat dan diukur, sedangkan menanam karang perlu bersusah payah menyelam ke dasar laut.

Proposal ke World Bank dan United Nation Development Program pun tidak mendapat tanggapan. Bahkan pengajuan dana ke Pemerintah Daerah Kota Sabang ditolak saat pembahasan di tingkat parlemen lokal (DPRD). ”Tidak ada dana pemerintah selain dana sosial Pemda Sabang sebesar Rp 150 juta pada 2009,” kata Dodent.

Meski tanpa bantuan, aktivitas penanaman ini tetap berjalan. Hingga hari ini, Dodent mengaku telah mengeluarkan kocek lebih dari Rp 800 juta untuk menanam karang di sepanjang Selat Rubiah. Biaya itu sepenuhnya berasal dari keuntungan dari bisnis penyelaman Rubiah Divers Shop.

Dodent meyakini, habitat terumbu karang membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Keindahan panorama bawah laut akan mendatangkan wisatawan. Masyarakat mendapatkan penghasilan atas usahanya membuat bungalo, restoran, sewa glass bottom boat untuk melihat karang, dan lainnya. ”Kita tidak bisa memberi pekerjaan kepada masyarakat. Tapi dengan merehabilitasi terumbu karang, semua orang bisa mendapat penghasilan selama ia masih mau bekerja,” ujarnya.

Heru Pamuji dan Sukmono Fajar Turido

Sampah Pun Jadi Berguna

Ketika sepi wisatawan, Dodent menggerakkan 16 karyawannya di Rubiah Diver Shop untuk ”turun laut” di Selat Rubiah sepanjang 2 kilometer. Mereka menyelam dengan peralatan lengkap dan meletakkan substrat-substrat terumbu karang. Sebelumnya, Dodent mengajari mereka memotong karang untuk transplantasi, membuat substrat, dan tatacara peletakan substrat di dasar laut.

Substrat yang dikembangkan Dodent berbentuk kerucut tumpul, berdiameter alas 30 sentimeter, diameter atap 10 sentimeter serta tinggi 30 sentimeter, terbuat dari campuran kerikil semen, kerikil dan pasir (kongkret). Substrat tersebut diisi dengan botol-botol air mineral bekas, misalnya sampah plastik dari turis, pipa paralon, dan botol kaca (sampah restoran atau kafe). Kemudian didiamkan selama satu bulan di dalam laut untuk mengurangi kandungan kimia yang berbahaya sebelum ditempelkan fragmen karang yang akan ditransplantasi atau dicangkok.

Sebulan kemudian, fragmen-fragmen karang yang diambil dari indukan ditempel dan diikat pada botol-botol kaca atau paralon pada substrat. Cara mengambil fragmen karang ini sederhana. Cukup memukulkan kapak kecil pada bagian fragmen yang akan diambil. Secara langsung fragmen itu akan terpisah dan kemudian diperhalus dan ditempelkan ke permukaan substrat.

Fragmen itu disambung dengan paralon sebagai penyangga. Setiap substrat kemudian diikat dengan kabel satu sama lain, kemudian ditaruh begitu saja saja didasar laut dengan kedalaman yang diinginkan. Pertumbuhan karang diamati selama satu tahun. ”Setelah itu kita serahkan kepada ikan. Karena karang itu rumah ikan, biar mereka merawat sendiri rumahnya,” ujar Dodent. Kedalaman tanam substrat antara 4-8 meter di bawah permukaan air laut dan harus ada ruang bagi matahari dari sisi manapun untuk pantul memantul. ”Saya uji coba sendiri modelnya,” ungkap Dodent. Menurutnya, ombak di Selat Rubiah tidak terlalu besar, karena terlindung oleh gugusan karang di depannya. Hingga hari ini, ada 26 spesies karang yang ditanam. Tapi Dodent mengaku tidak tahu spesies apa saja yang sudah ditanamnya.

Menggerakkan Sosial Ekonomi Rakyat

Ketika Badan Rekonstruksi dan Rahabilitasi Aceh tidak mampu menangani persoalan terumbu karang, Dodent menyingsingkan lengan berswadaya melakukan pekerjaan gila itu. Kiprah tersebut mendapat acungan jempol Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kalpataru, Ismid Hadad. Ismid mengaku salut dengan perjuangan yang dilakukan oleh Dodent. ”Pak Dodent melakukan konservasi terumbu karang disaat orang lain tidak ada yang melakukannya,” anggota Dewan Pembina Keanekaragaman Hayati Indonesia itu menjelaskan.

Dodent mampu menggerakkan masyarakat sekitarnya untuk merawat terumbu karang. Aksi sosial itu hanya satu dari usaha, perjuangan, dan pengorbanan Dodent demi kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan. ”Selain membuat jalur terumbu karang sepanjang selat Rubiah, Dodent juga berhasil merehabilitasi hutan bakau dengan penanaman sekitar 55.000 pohon bakau di Teluk Lhok Weng Iboih, Ceuneuhot-Jaboi dan Krueng Raya,” kata Ismid.

Atas dana bantuan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dodent masuk ke sekolah-sekolah SMA dan menunjukkan gambar-gambar untuk merangsang anak-anak melindungi ekosistem pesisir. Ia juga menyebarkan bahan bacaan yang mendidik. Selain itu, sebagai upaya perawatan karang, Dodent juga membuat 30 unit muoring buoys yang berfungsi menambat jangkar perahu nelayan. ”Yang utama, ia memperbaiki ekosistem. Di sisi lain, berkat rintisannya, maka kelompok lain juga ikut bergerak. Dampak sosial ekonomi ttu yang luar biasa,” Ismid menambahkan. (By: Sukmono Fajar Turido)

LINGKUNGAN
GATRA No 34 / XVI 14 Jul 2010

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: