Melihat Sekilas Borneo

Membaca sekilas tiga buku yaitu: “Indonesia Manusia dan Masyarakatnya” Judit Shaw 1987., “Ayo ke Tanah Sabrang: Transmigrasi di Indonesia” Patrice Levang 2003. “.,” Maneser Panatau Tatu Hiang: Menyelami Kekayaan Leluhur” Nila Riwut 2003, mengingatkanku akan pertanyaan seorang sahabat , “Setelah tanah ini dieksploitasi dan sumber alamnya sudah habis, lalu harus bagaimanakah kami penduduk asli di situ ke depannya?”

Pertanyaan itu tak mungkin bisa dijawab dalam sehari karena memang eksploitasi yang terjadi di sana sudah ratusan tahun dan sekarang adalah dampak atau hasil dari proses yang sedang berjalan. Kalimantan merupakan simpang empat bagi kebudayaan di jaman prasejarah dan jaman sejarah awal. Di jaman Neolit, pendatang dari Cina membawa barang-barang kesenian dan teknologi Dinasti Chou dan kebudayaan Cina -Vietnam Dongson yang telah mempengaruhi seluruh bagian barat Indonesia. Inskripsi-inskripsi Sansekerta dari sekitar tahun 400 M membuktikan pengaruh Hindu di Kalimantan Timur. Besar kemungkinannya daerah ini dahulu menjadi pusat perdagangan pada jalur yang banyak dilalui antara Cina, Filipina, dan Kerajaan Majapahit di Jawa. Banyak barang perunggu dan porselen gaya Dinasti Chou diketemukan di Kalimantan, dan di daerah pedalaman gong perunggu gaya Cina menjadi alat pembayaran, terutama untuk mahar pada perkawinan.
Di Kalimantan terdapat tiga kelompok etnik utama: Kelompok keturunan Melayu di pesisir, ialah kelompok pendatang baru yang beragama Islam dan tinggal di kota-kota dan tempat tempat kecil di muara sungai; Kelompok Etnik Cina yang menguasai perdagangan di Kalimantan sejak berabad-abad ; dan Suku Dayak, penduduk asli Kalimantan. Kata “Dayak” dipakai untuk menyebut lebih dari dua ratus suku sakat di pedalaman. Semula mereka tinggal di pantai, tetapi kemudian terdesak semakin jauh ke pedalaman oleh pendatang Melayu. Mereka tinggal di tepi sungai dan dataran-dataran tinggi , jauh di dalam rimba dan hidup dengan cara yang tak jauh berbeda dari nenek moyang mereka di Jaman Neolit. Kebudayaan suku-suku Dayak berbeda satu dengan yang lainnya namun tetapi umumnya berpusat pada Lamina tau Rumah Panjang.
Kalimantan telah berubah sejak pertengahan abad ini. Banyak kebudayaan Dayak lama mulai hilang atau akan hilang. Upacara-upacara sudah berkurang, dan adat atau tradisi telah mulai berkurang karena pengaruh Agama Islam dan Kristen. Tuak, sejenis minuman yang dibuat dari nira, yang diminum pada upacara atau tarian-tarian oleh misionaris Protestan dilarang. Tanpa minuman itu, upacara dan tarian tidak berlangsung. Pemerinath dan misionaris juga telah menganjurkan, agar kehidupan di rumah panjang ditinggalkan, karena kurang sehat dan dapat menyebarkan penyakit. Desa-desa bergaya Jawa dibangun untuk menggantikan rumah panjang, akan tetapi kebudayaan Dayak yang berpusat pada rumah panjang di desa-desa ini tidak bertahan.
Kayu merupakan barang dagangan penting di Kalimantan, dan kekayaan akan kayu keras adalah hikmah tetapi sekaligus juga petaka. Penebangan pohon secara liar menyebabkan erosi hebat di beberapa daerah, dan walaupun telah dilakukan kembali penghutanan, tampaknya akan dibutuhkan beberapa dasawarsa lagi sebelum hutan-hutan itu pulih. Penebangan kayu juga telah mengganggu pola pembiakan serta memusnahkan lingkungan hidup binatang langka. Belakangan ini pemerintah telah mengambil langkah-langkah dengan membatasi penebangan dan melindungi hutan serta penghuninya, namun pencurian kayu maupun pemburuan binatang amat mudah dilakukan, dan melihat luasnya hutan, sukar sekali untuk diawasi.
Di dekat Balikpapan, yang juga terkenal dengan “kota minyak” terdapat sumber gas alam yang sangat kaya. Beribu-ribu orang asing dan orang Indonesia dari pulau-pulau lain datang untuk bekerja di Balikpapan dan Badak, dekat Balikpapan tempat penyulingan besar. Perbedaan kehidupan antara pendatang dan penduduk setempat sangat menyolok. Masuknya penduduk pantai dan pedagang ke hulu sungai telah menyebabkan lunturnya kebudayaan Dayak. Seperti dahulu, apabila menghadapi desakan dari luar, Orang Dayak mundur lebih jauh ke pedalaman, ke bagian-bagian yang belum terjamah orang luar (Judith Shaw, 1987: 111-114).
Selain secara alami karena Kalimantan memiliki sumber daya ekonomi yang tinggi seperti kayu, minyak bumi, gas alam, dan batubara, Kalimantan juga menjadi tujuan program transmigrasi yang dilakukan pemerintah. Seperti yang ditulis Patrice Levang berikut:
Daerah tujuan transmigrasi berubah dari waktu ke waktu. Pada zaman Kolonisatie, penempatan migran terutama dilakuakn di ujung selatan Pulau Sumatra, yakni Gedong Tataan (1905), Wonosobo (1921), Metro (1935), dan Belitang (1937). Migran yang ditempatkan di Sulawesi dan Kalimantan hanya berkisar 13,5% dari jumlah seluruh migrant sampai dengan tahun 1940. Sejak tahun 1976, Kalimantan lama-lama menggantikan dengan proporsi yang sama besarnya dengan Sumatra dan Sulawesi. Terakhir walaupun menimbulkan banyak polemik, transmigrasi ke Irian Jaya benar-benar baru dimulai pada tahun 1979 dan hanya mencapai 4,5% dari jumlah seluruh transmigran.
Pusat begitu yakin akan kelebihan polanya sehingga tidak dapat membayangkan bahwa mungkin saja polanya ditolak. Misalnya para transmigran diharapkan akan mengajarkan teknik pertanian intensif kepada penduduk setempat. Karena terpukau akan hasil yang diperoleh, penduduk setempat tentunya akan menyebarluaskan teknik modern itu sampai ke desa mereka. Lama kelamaan pertanian modern tentunya akan menggeser cara kuno yang masih dilakukan di luar Jawa.
Dari segi penyuluhan pertanian, adakalanya transmigran memperoleh hasil yang tidak diinginkan. Pada proyek lahan kering di Kalimantan, misalnya, sering transmigran Jawa bergabung dengan orang Dayak untuk merambah hutan. Di Kalimantan Selatan transmigran Jawa meninggalkan pertanian untuk mendulang emas dan intan seperti penduduk asli Banjar. Pada proyek pasang surut banyak transmigran meniru teknik pertanian tradisional Banjar dan Bugis. Anehnya justru di wilayah transmigran yang kurang berhasil, integrasi transmigran dengan penduduk asli tampak yang paling padu (Levang, 2003: 25-31)
Selain pandangan kedua tokoh di atas, Nila Riwut yang merupakan keturunan Orang Dayak punya pendapat yang lain tentang Kalimantan:
Niat membuka Dayak reservaten, sepanjang yang tertulis, memberikan perlindungan kepada Suku Dayak agar dapat memiliki tanah perladangan yang cukup. Di samping itu tidak dapat dipungkiri bahwa bentuk Dayak reservaat adalah sejalan dengan politik colonial yang ingin memecah belah bangsa Indonesia dengan jalan memisahkan golongan satu dengan lainnya.
Sebenarnya Dayak reservaat, sama artinya dengan Orang Dayak dijadikan tontonan, maksudnya dimasukkan ke dalam lemari kaca, kemudian dijadikan tontonan pihak lain. Dunia luar menyangka mereka mendapat perlindungan, kenyataan mereka tetap sebagai golongan masyarakat terendah yang tidak mendapatkan layanan dan bimbingan yang layak sebagai rakyat. Disamping itu harus juga diakui bahwa sebenarnya Dayak reservaat adalah batas dari hutan cadang dan tanah perkampungan, sehingga, apabila batas tersebut dengan begitu saja ditiadakan, mungkin tanah-tanah yang ada di situ dalam waktu singkat, akan berubah menjadi padang alang-alang. Kemudian hutan cadang akan habis musnah, sehingga kemungkinan bencana banjir akan lebih besar.
Penduduk yang mendiami Dayak reservaat ini, taraf pendidikan dan pengetahuan akan dunia luar sangat minim. Hal ini dapat dimengerti karena sejak dulu tidak pernah mendapatkan bimbingan yang layak. Dikhawatirkan adanya perbedaan yang menyolok antara penduduk yang mendiami Dayak reservaat dengan penduduk yang diam di luar Dayak reservaat. Dikhawatirkan pula bila daerah Dayak reservaat dihapuskan dan penduduk yang mendiami daerah tersebut tidak mendapatkan perlindungan yang wajar, maka mereka akan mengadakan perpindahan besar-besaran untuk masuk lebih dalam ke pedalaman, Akibatnya, banyak pihak yang akan dirugikan.
Pada masa kolonial telah dilaksanakan usaha untuk mengintensifkan pemerintah daerah Dayak reservaat dengan jalan menempatkan pegawai-pegawai Dayak di daerah tersebut. Usaha ini mengalami kegagalan, karena pegawai-pegawai yang ditempatkan tersebut hanya diberi tugas sebagai penjaga pintu. Maksudnya agar tidak ada suku lain yang masuk dan berladang di daerah tersebut. Pada prinsipnya Dayak reservaat , tidak perlu lagi dipertahankan, karena akan menghambat kemajuan dan perkembangan daerah itu sendiri. Dengan mengumpulkan suku-suku yang ada di sekitarnya, misalnya Suku Dayak Bukit, Dayak Balangan,dibuat suatu kampung baru yang sehat, terarah,dan dipimpin oleh pemerintah daerah yang cakap, berpandangan luas dan berwibawa. Dengan demikian, diharapkan kebiasaan penduduk untuk berpindah-pindah tempat tingga, akan lenyap secara bertahap.
Cara memilih daerah yang layak untuk dijadikan kampung baru, dengan dibentuk panitia khusus dengan tugas mengadakan perundingan-perundingan dengan kedua suku, untuk menentukan tempat paling sesuai untuk dijadikan kampung baru bagi mereka. Dalam hal ini jangan dilupakan untuk melibatkan ahli pertanian. Satu tantangan lagi, bukan hal mudah meyakinkan kedua suku itu bahwa ldaerah baru yang akan mereka huni akan lebih menguntungkandan mensejahterakan mereka, dalam hal ini tentu saja dibutuhkan kemampuan khusus.
Tanah bekas Dayak reservaat sebaiknya direhabilitasi, dan tentu saja butuh dana tidak sedikit dari pemerintah, namun hal tersebut perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya pembukaan hutan-hutan baru. Mengingat bahwa Indonesia adalah negara agraris, maka pada saat Dayak Reservateen dibuka maka amat bijaksana apabila pemerintah menetapkan suatu peraturan untuk mengatur tanah kosong yang ada di dalam daerah Dayak Reservateen, sama seperti dilakukan sekarang dengan tanah elpacht Kelayan, dengan ketentuan bahwa bagi mereka yang telah mempunyai tanah, baik di dalam maupun di luar Dayak reservateen, izin tidak diberikan. Menurut hemat penulis apabila Dayak reservaat dihapuskan, harus dilaksanakan dengan bijaksana dank arena masalah ini dianggap hal penting, maka pelaksanaannya harus dengan cara yang hati-hati. (Nila Riwut, 2003: 108-109) (By: Septa Agung Kurniawan)

The Meanings of Things: Material Culture and Symbolic expression

Edited by : Ian Hodder (department of Archaeology, University of Canbridge).
Harper Collins Academic

Buku ini berisi tentang essay-essay yang dibuat oleh para arkeolog tentang pemaknaan budaya material dan juga teori-teori yang digunakan para arkeolog tersebut memaknai material (artefac). Ian Hodder hanya mengedit naskah yang ada.
Essay-essay tersebut antara lain;
-The political use of Australian Aboriginal body painting and its archaeological implications : Robert and Gemetchu MegersaLayton.
-Terracota worship in fringe Bengal: D.K. Bhattacharya.
-Iron and beads: male and female symbols of creation. A study of ornament among Booran Oromo (east Africa): Aneesa Kassa
-The Message of Material behavior: a preliminary discussion of non-verbal meaning:
Roland Fletcher
-Religious cults and ritual practice among the Mendi people of the Southern Highland Province of Papua New Guinea : Theodore Mawe
-Sites as texts: an exploration of Mousterian traces: Lucy Jayne Botscharow
-Style and changing relations between the individual and society: Polly Wiessner
-Post-Modernism, post-structuralism and post-processual archaeology : Ian Hodder
-‘We, the post- megalithic people…”: Felipe Criado
-dan seterusnya sampai ada 20 essay dan terakhir
-Habitus and social space: some suggestions about meaning in the Saami (Lapp) tent ca. 1700-1900: Timothy Yates

(by: Septa Agung Kurniawan)

Tanda-Tanda Zaman

0leh: Dick Hartoko

Ketika pada akhir abad ketiga Masehi kaisar Diokletianus ingin menyelamatkan kerajaan Roma dari keruntuhan, maka ia menciptakan sebuah organisasi baru, sistem atau bagan baru, yang antara lain dimaksudkannya untuk mengamankan penggantian tahta. Tetapi ketika ia mengundurkan diri, mekanisme baru yang seharusnya melancarkan dan menghaluskan kenaikan seorang kaisar baru ternyata macet dan berkobarlah kembali perang-perang saudara, perebutan mahkota kekaisaran,……Organisasi baru, bagan baru dan mekanisme baru memang tidak selalu menjamin semangat baru dan jiwa baru, apalagi kalau itu dipaksakan dari atas.
Bagan dan organisasi hanya sebuah kulit dan wadah, tetapi yang lebih penting adalah isinya. Tanpa semangat dan jiwa maka segala bagan dan wadah tetap tinggal barang-barang mati saja, tidak mampu untuk merubah kenyataan hidup.
Kita lebih sering tergoda untuk mementingkan wadah dan bagan daripada jiwa dan semangat. Kita percaya, bahwa dengan adanya bagan-bagan baru maka dengan sendirinya kenyataan hidup juga akan berubah. Skema-skema muluk sering menghiasi dinding ruang-ruang rapat. Tetapi bagaimana follow up-nya??? Tanpa jiwa dan semangat skema-skema itu tinggal kerangka dan tulang-tulang saja.
Lalu bagaimana memupuk jiwa dan semangat? Bagaimana menegakkan keyakinan dan keinsyafan?
Keyakinan hanya timbul, karena melihat bukti-bukti yang nyata. Dan keyakinan menjadi kendur, bila antara fakta dan kata tetap ada jurang menganga.
Seorang pemuda baru dapat di-insyafkan akan nilai-nilai hidup sederhana, kerukunan suami-isteri dsb, bila dengan mata kepala sendiri ia melihat, bahwa ayahnya sungguh hidup sederhana, bahwa ayah dan ibu selalu mencari hiburan bersama dan tidak sendiri-sendiri. Keyakinan timbul karena kenyataan, tidak karena adanya bagan-bagan muluk.
Pengalaman kaisar Diokletianus kadang-kadang ada gunanya juga direnungkan kembali pada abad yang kedua puluh ini di tanah air kita Indonesia……..

Dikutip dari Majalah Basis Edisi Desember 1974 (by: Septa Agung Kurniawan)

Data Buku-Buku Koleksi Metamorf

1.Yogananda, Paramahansa. 1976. Mans’s Eternal Quest and Other Talks. Self-Realization Fellowship.
2.Pieris, Aloysius,S.J. 1996. Berteologi Dalam Konteks Asia. Yogyakarta: Kanisius.
3.Moore, Henrietta L. 1988. Feminism and Anthropology. Cambridge: Polity Press.
4.Koentjaraningrat.1990. Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: UI-Press.
5.Gramsci, Antonio.1987. Sejarah dan Budaya. Surabaya: Pustaka Promethea
6.Munoz, Heraldo.ed. 1986. From Dependency to Development: Strategies to Overcome Underdevelopment and Inequality. Colorado: Westview Press.
7.Sugiharto, Bambang I. 1996. Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.
8.Bakker, Anton. 2000. Antropologi Metafisik. Yogyakarta: Kanisius.
9.Sairin, Sjafri.,Pujo Semedi., Bambang Hudayana. 2002. Pengantar Antropologi Ekonomi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
10.Muljana, Slamet. Prof.Dr. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LKiS.
11.Gunawan, Istutiah. 2000. Hierarchy and Balance: A. Study of Wanokaka Social Organization. Canbera: A Publication of the Department of Anthrropology Research School of Pasific and Asian Studies The Australian National University.
12.Hegel, G.W.F. 2001. Filsafat Sejarah G.W.F. Hegel. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
13.Soedjito, S. Prof.,SH.,MA. 1986. Transformasi Sosial: Menuju Masyarakat Industri. Yogyakarta: Tiara Wacana.
14.Chitambar,J.B. 1972. Introductory Rural Sociology. New York: Halsted Press.
15.Malinowski, Bronislaw. 1944. A Scientific Theory Of Culture And Other Essays. The University Of North Carolina.
16.Ahimsa-Putra, Heddy Shri.2001. Strukturalisme Levi-Strauss: Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Galang Press.
17.Bartholomew, John Ryan. 1999. Alif Lam Mim: Kearifan Masyarakat Sasak. Yogyakarta: Tiara Wacana
18.Piliang, Yasraf Amir. 1999. Hiper Realitas Kebudayaan. Yogyakarta: LKis.
19.Budiwanti, Erni. Dr. 2000. Islam Sasak: Wetu Telu Versus Waktu Lima. Yogyakarta: LKis
20.Turner, Jonathan H. 1978. The Structure of Sociological Theory. Illinois: The Dorsey Press.
21.Hidayah, Zulyani. 1997.Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: LP3ES
22.Alfian.ed. 1977. Segi-Segi Sosial Budaya Masyarakat Aceh. Jakarta: LP3ES.
23.Bangun, Tridah.,Drs. 1986. Manusia Batak Karo. Jakarta: PT. Inti Idayu Press.
24.Boyarin, Jonathan.1993. The Ethnography of Reading. Los Angeles: University of California Press.
25.Tse-Tung, Mao. 2001. Empat Karya Filsafat.FuSPAD: Forum Studi Perubahan dan Peradaban
26.Steward, Julian H. Theory of Culture Change: The Methodology of Multilinear Evolution. London: University of Illinois Press.
27.Agger, Ben. 1998. Critical Social Theories: An Introduction. Texas: Westview Press.
28.Luxemburg, Rosa. 1986.Pemogokan Massa. Yogyakarta: Gelombang Pasang
29.Badri, Jusuf. 1997.Komunisme dan “Agama” Komunis. Jakarta: Pustaka Ilmu Abadi.
30.Pranowo DS, Handojo Adi, Drs. 1985. Manusia dan Hutan: Proses Perubahan Ekologi di Lereng Gunung Merapi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
31.Sama dengan atas
32.Kuntowijoyo. 2006. Islam Sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika. Yogyakarta: Tiara Wacana.
33.Johnson, Allen W., and Timothy Earle. 2000. The Evolution of Human Societies: From Foraging Group to Agrarian State. California: Stanford University Press.
34.Wilber, Charles K.ed. 1973. The Political Economy of Development and Underdevelopment. New York: Random House.
35.Milton, Kay. Ed.1993. Enviromentalism: The view from anthropology. London: Routledge.
36.Bauer, P.T. 1973. Dissent on Development: Studies and Debates in development Economics. London: Vikas Publising House.
37.Koentjaraningrat.1981. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
38.Dove, Michael R., Sugeng Martopo. 1987. Manusia dan Alang-Alang di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
39.Khaldun, Iba. 1986. Muqadimah Iba Khaldun. Jakarta: Pustaka Firdaus.
40.Heyzer, Noeleen.Working Women in South-East Asia: Development, Subordination and Emancipation.
41.Rosen, Philip.ed. 1986. A Film Theory Reader: Narrative, Apparatus, Ideology. New York: Collumbia University Press.
42.Plamenatz, John. 1963. Man And Society: A Critical Examination of Some Important Social and Political Theories from Machiavelli to Marx. London: Longman Group Limited.
43.Abdullah, Irwan. Dr. ed. 1999. Bahasa Nusantara: Posisi dan Penggunaannya Menjelang Abad ke-21. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
44.Gorki, Maxim. 2000. Pemogokan: Kumpulan Cerita Pendek dari Italia. Yogyakarta: Yayasan Aksara Indonesia.
45.Furnivall, J.S. Colonial Policy And Practice: A comparative Study of Burma and Netherlands India. New York: New York University Press.
46.Kontilainen, Eija-Maija. 1992. When The Bones Are Left: A study of the Material Culture of Central Sulawesi. Helsinski: The Finish Anthropological Society.
47.Kraan, Alfons van der. 1980. Lombok: Conquest, Colonization and Underdevelopment, 1870-1940. Singapore: ASSA Southeast Asia Publication Serries.
48.Linton, Ralph. Prof.Dr. 1984. Antropologi: Suatu Penyelidikan Tentang Manusia. Bandung: Jemmars.
49.Kaudern, Walter. Structures And Settlement in Central Celebes: Ethnographical studies in Celebes, Result of the authors’s expedition to cellebes 1917-1920.
50.Fox, James J. ed. 1988. To Speak In Paris: Essays on the ritual languages of eastern Indonesia. Cambridge: Cambridge University Press.
51.Beckerman, Wilfred. 1974. Two Cheers For The Affluent Society: A spirited Defense of Economic Growth. New York: Saint Martin’s Press.
52.Soewondo, Nani. SH. 1981. Kedudukan Wanita Indonesia: Dalam Hukum Masyarakat. Jakarta Timur: Ghalia Indonesia.
53.Nasr, Seyyed Hossein.1987. Islam Tradisi di Tengah Kancah Dunia Modern. Bandung: Penerbit Pustaka.
54.Halperin, Rhoda., James Dow. Ed. Peasant Livelihood: Study in Economic Anthropology and Cultural Ecology. New York: St. Martin’s Press.
55.Spradley, James P. , Michael A. Rynkiewich . Ethics and Anthropology: Dillemas in Fielwork. New York: Macalester Colledge.
56.Mishan, E.J. 1977. The Economic Growth Debate. London: George Allen and Unwin Ltd.

The Ethnography of Reading

The Ethnography of Reading
Edited by: Jonathan Boyarin
University of California Press

Nothing is more commonplace than the reading experience, and yet nothing is more unknown. Reading is such a matter of course that at first glance, it seems there is nothing to say about it. (Introduction: Jonathan Boyarin)

Buku ini juga berisi tulisan-tulisan para antropolog yang membaca budaya. Jika tertarik tentang studi literatur buku ini bisa menjadi salah satu acuan. Ada 10 tulisan dalam buku ini antara lain:

-Placing Reading: Ancient Israel and Medieval Europe(Daniel Boyarin).
-Gracious Words: Luke’s Jesus and the Reading of Sacred Poetry at the Begining of Cristian Era (Susan Noakes).
-The Cultural Construction of Reading in Anglo-Saxon England (Nicholas Howe).
-Keep Listening: Ethnography and Reading (Johannes Fabian)
-The Presence of The Name: Reading Scripture in an Indonesian Village (James N. Baker).
-Literacy, Orality, and Ritual Practice in Highland Colombia (diana Digges and Joanne Rappaport)
-Japanese Spirit and Chinnese Learning : Scribes and Storytellers in Pre-moddern Japan (H. Mack Horton)
-Textual Interpretation as Collective Action (Elizabeth Long)
-Voices Arround the Text: The Ethnography of Reading at Mesivta Tifereth Jerusalem (jonathan Boyarin).

(by: Septa Agung Kurniawan)

Aksi Gila Berbuah Anugerah (By: Sukmono Fajar Turido)

Mahyiddin alias Dodent berjuang merehabilitasi terumbu karang di pesisir Aceh. Tanpa bantuan dana pemerintah dan funding dunia. Menggerus kocek sendiri hingga Rp 800 juta untuk menanam 26 spesies karang.

Di Istana, mata Mahyiddin berkaca-kaca. Dodent, demikian laki-laki kelahiran Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam, pada 1 Juli 1952 itu biasa dipanggil, berjabat tangan erat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Selasa dua pekan lalu, dia menerima replika pohon kalpataru, sebagai penghargaan atas perjuangannya melestarikan lingkungan hidup. Ia dianggap sebagai pendekar lingkungan lantaran berjuang merehabilitasi terumbu karang di kawasan Taman Nasional Pulau Weh, Nanggroe Aceh Darussalam.

Melalui plakat Kalpataru itu, Dodent berharap agar masyarakat sepanjang garis pantai diperhatikan. Bapak tujuh orang anak itu datang ke Istana hanya ditemani oleh Lukman, Ketua Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Kota Sabang. Tidak ada rombongan besar, sebagaimana penerima anugerah yang lain.

Dodent sebenarnya sudah dinominasikan untuk memperoleh anugerah Kalpataru sejak 1998, atas rekomendasi dari Syamsuddin Mahmud, Gubernur Aceh kala itu. ”Tetapi saya tidak mengurus surat-surat administratif, sebab penghargaan itu bukan target saya,” tuturnya.

Pasca-musibah tsunami Aceh pada 2004, Dodent memutuskan untuk ”bersepakat” menerima anugerah Kalpataru dari pemerintah. ”Karena persoalan pesisir pasca-tsunami semakin besar, dari situ saya lalu bergerak habis-habisan. Saya setuju mendapat Kalpataru agar isu pesisir bisa diangkat,” ujarnya.

Toh, saat Dodent menerima plakat Kalpataru, ternyata kenyataan tidak sejalan dengan harapan yang ia gadang-gadang sejak berangkat dari kampungnya di Aneuk Laot, Sukakarya, Kota Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam. ”Pengarahan dari presiden, Menteri Kehutanan, dan Menteri Lingkungan Hidup tidak menyentuh masalah masyarakat pesisir. Orientasinya cuma ke darat, yakni menanam pohon atau mangrove untuk mengantisipasi global warming,” kritiknya.

Dodent merasa aneh jika orientasi pemerintah selalu tertuju pada wilayah daratan, sementara Indonesia adalah negara kelautan. Kini, menurut Dodent, yang berkuasa di laut kita adalah Jepang, Thailand, Malaysia, dan lainnya. Isu daerah pesisir pun tenggelam oleh hiruk pikuk isu politik. Inilah yang menyebabkan masyarakat pesisir tetap berada dalam garis kemiskinan. ”Saya memperbaiki taman laut Indonesia, tapi menterinya tidak pernah peduli,” ujarnya, menggambarkan aktivitas konservasi di kawasan Taman Nasional Pulau Weh.

***

Sejak 1965, sembari menekuni profesi sebagai nelayan, Dodent memulai aktivitas perlindungan ekosistem terumbu karang di sekitar perairan Sabang. Dengan modal handy talkie dan transistor sederhana di kapal ikannya, Dodent menyusupi sistem komunikasi kapal pukat harimau yang mencari ikan perairan Sabang.

Sebetulnya Dodent hanya mengajak berkomunikasi dan mengingatkan mereka. Namun oleh kapal-kapal ilegal tersebut, ia dikira sebagai petugas keamanan. ”Sehingga mereka langsung kabur,” ungkapnya. Selain ilegal, kapal-kapal berbendera Singapura yang sering dijumpai Dodent kerap menebarkan bom dalam area penangkapan ikan, sehingga merusak terumbu karang.

Jurus “menghalau” kapal-kapal pukat harimau untuk melindungi ekosistem perairan Sabang itu dilakoni Dodent seorang diri hingga tahun 1970-an, hingga ia bekerja sebagai operator boat di perusahaan asing. Selama menemani ekspatriat selama lima tahun, Dodent memperoleh ilmu dan pengalaman penting yang kelak menghantarkan plakat Kalpataru ke tangannya. ”Saya akhirnya tahu bahwa karang bisa dibudidayakan,” kata Dodent.

Bosan bekerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain, di antaranya perusahaan pelayaran berbendera Panama yang berkeliling dari Pukhet-Sri Lanka-Tandibar-Laut Merah-Maldiv-Madagascar-Ya

man-Sudan-Mesir hingga menjadi rimbawan di Departemen Kehutanan, Dodent akhirnya kembali ke kampungnya pada 1986.

Ia lalu membuka Rubiah Divers Shop’ dengan modal terbatas. Di Jakarta, Dodent sempat membeli kamera bawah air, yang kemudian digunakan untuk memotret memotret keindahan bawah laut perairan Sabang. Berbekal hasil jepretan itulah Dodent membangun usahanya perlahan-lahan. I

Ia manawarkan paket wisata selam kepada para ekspatriat Eropa Barat yang bekerja di PT Arun. Walhasil, mereka kemudian lego jangkar, tidak perlu jauh-jauh menyelam ke Pukhet. Ternyata taman laut Sabang lebih eksotis. ”Akhirnya saya bisa beli satu peralatan selam lengkap,” ujarnya.

Sembari menjalankan usahanya, Dodent tetap menjalankan misi pelestarian lingkungan. Kali ini, Dodent mengajak wisatawan yang dipandunya merobek jala kapal-kapal asing yang kedapatan berburu ikan hias di perariran Sabang. Atas aksinya ini, Dodent tak jarang mendapat teror, hujatan dan jemput paksa dari aparat keamanan setempat.
***

Musibah tsunami di Aceh pada akhir 2004 mengubah segalanya. Gelombang tsunami yang menerjang Sabang hanya menyisakan 25 tabung gas yang baru malam sebelumnya diisi. ”Dua kapal hilang dan empat motor tempel semuanya berlayar tak pulang lagi,” ujarnya mengenang masa-masa sulit itu.

Begitu menyadari dahsyatnya musibah Desember 2004, Dodent kemudian menggerakkan karyawannya untuk melakukan underwater cleaning. Selama 22 hari mereka membersihkan sampah tsunami di Selat Rubiah. Enam hari pertama, bolak-balik dari Sabang-Aceh mengangkut sampah-sampah tsunami menggunakan kapal Dodent yang tersisa. ”Karena waktu itu tidak ada kapal feri,” ia mengisahkan.

Selama aksi filantropis itu, Dodent menggaji 20 orang sukarelawan. Masing-masing dibayar 50.000 per hari. Satu hari dua kali menyelam, membersihkan dasar laut dari sampah-sampah tsunami menggunakan tabung gas Dodent yang tersisa.

Pada masa rekonstruksi dan rehabilitasi pasca-tsunami Aceh, Rubiah Divers Shop mendapat tambahan order sebagai perusahaan penyedia jasa angkutan dan fasilitas pengawasan karang oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam dan luar negeri. ”Kami dapat penghasilan dari membantu NGO dalam pemantauan karang,” ujar Dodent. Namun ia mengkritik UNESCO, karena lembaga PBB itu hanya melakukan monitoring tanpa membudidayakan karang.

Dodent semakin geregetan lantaran tidak ada blueprint dari pemerintah pusat dan daerah untuk penyelamatan terumbu karang yang rusak. ”Saya memutuskan memulai menanam terumbu karang pada Januari 2006,” katanya. Awalnya Ia menggunakan uang hasil sewa jasa ke lembaga-lembaga internasional yang datang ke Aceh. Di waktu luang, ketika tidak ada wisatawan, Dodent menggerakkan 16 tenaga selamnya untuk membantu menanam karang di sepanjang Selat Rubiah dengan imbalan Rp 50.000 per orang. ”Itu di luar gaji mereka sebagai tenaga selam di Rubiah Divers Shop,” kata Dodent.

Untuk menutup kekurangan biaya, Dodent ”mengemis” ke berbagai lembaga, namun upayanya sia-sia. ”Itu kan pekerjaan yang gila,” Dodent menirukan pendapat masyarakat waktu itu. Maklum, menanam karang berbeda dengan menanam mangrove. Mangrove bisa dilihat dan diukur, sedangkan menanam karang perlu bersusah payah menyelam ke dasar laut.

Proposal ke World Bank dan United Nation Development Program pun tidak mendapat tanggapan. Bahkan pengajuan dana ke Pemerintah Daerah Kota Sabang ditolak saat pembahasan di tingkat parlemen lokal (DPRD). ”Tidak ada dana pemerintah selain dana sosial Pemda Sabang sebesar Rp 150 juta pada 2009,” kata Dodent.

Meski tanpa bantuan, aktivitas penanaman ini tetap berjalan. Hingga hari ini, Dodent mengaku telah mengeluarkan kocek lebih dari Rp 800 juta untuk menanam karang di sepanjang Selat Rubiah. Biaya itu sepenuhnya berasal dari keuntungan dari bisnis penyelaman Rubiah Divers Shop.

Dodent meyakini, habitat terumbu karang membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Keindahan panorama bawah laut akan mendatangkan wisatawan. Masyarakat mendapatkan penghasilan atas usahanya membuat bungalo, restoran, sewa glass bottom boat untuk melihat karang, dan lainnya. ”Kita tidak bisa memberi pekerjaan kepada masyarakat. Tapi dengan merehabilitasi terumbu karang, semua orang bisa mendapat penghasilan selama ia masih mau bekerja,” ujarnya.

Heru Pamuji dan Sukmono Fajar Turido

Sampah Pun Jadi Berguna

Ketika sepi wisatawan, Dodent menggerakkan 16 karyawannya di Rubiah Diver Shop untuk ”turun laut” di Selat Rubiah sepanjang 2 kilometer. Mereka menyelam dengan peralatan lengkap dan meletakkan substrat-substrat terumbu karang. Sebelumnya, Dodent mengajari mereka memotong karang untuk transplantasi, membuat substrat, dan tatacara peletakan substrat di dasar laut.

Substrat yang dikembangkan Dodent berbentuk kerucut tumpul, berdiameter alas 30 sentimeter, diameter atap 10 sentimeter serta tinggi 30 sentimeter, terbuat dari campuran kerikil semen, kerikil dan pasir (kongkret). Substrat tersebut diisi dengan botol-botol air mineral bekas, misalnya sampah plastik dari turis, pipa paralon, dan botol kaca (sampah restoran atau kafe). Kemudian didiamkan selama satu bulan di dalam laut untuk mengurangi kandungan kimia yang berbahaya sebelum ditempelkan fragmen karang yang akan ditransplantasi atau dicangkok.

Sebulan kemudian, fragmen-fragmen karang yang diambil dari indukan ditempel dan diikat pada botol-botol kaca atau paralon pada substrat. Cara mengambil fragmen karang ini sederhana. Cukup memukulkan kapak kecil pada bagian fragmen yang akan diambil. Secara langsung fragmen itu akan terpisah dan kemudian diperhalus dan ditempelkan ke permukaan substrat.

Fragmen itu disambung dengan paralon sebagai penyangga. Setiap substrat kemudian diikat dengan kabel satu sama lain, kemudian ditaruh begitu saja saja didasar laut dengan kedalaman yang diinginkan. Pertumbuhan karang diamati selama satu tahun. ”Setelah itu kita serahkan kepada ikan. Karena karang itu rumah ikan, biar mereka merawat sendiri rumahnya,” ujar Dodent. Kedalaman tanam substrat antara 4-8 meter di bawah permukaan air laut dan harus ada ruang bagi matahari dari sisi manapun untuk pantul memantul. ”Saya uji coba sendiri modelnya,” ungkap Dodent. Menurutnya, ombak di Selat Rubiah tidak terlalu besar, karena terlindung oleh gugusan karang di depannya. Hingga hari ini, ada 26 spesies karang yang ditanam. Tapi Dodent mengaku tidak tahu spesies apa saja yang sudah ditanamnya.

Menggerakkan Sosial Ekonomi Rakyat

Ketika Badan Rekonstruksi dan Rahabilitasi Aceh tidak mampu menangani persoalan terumbu karang, Dodent menyingsingkan lengan berswadaya melakukan pekerjaan gila itu. Kiprah tersebut mendapat acungan jempol Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kalpataru, Ismid Hadad. Ismid mengaku salut dengan perjuangan yang dilakukan oleh Dodent. ”Pak Dodent melakukan konservasi terumbu karang disaat orang lain tidak ada yang melakukannya,” anggota Dewan Pembina Keanekaragaman Hayati Indonesia itu menjelaskan.

Dodent mampu menggerakkan masyarakat sekitarnya untuk merawat terumbu karang. Aksi sosial itu hanya satu dari usaha, perjuangan, dan pengorbanan Dodent demi kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan. ”Selain membuat jalur terumbu karang sepanjang selat Rubiah, Dodent juga berhasil merehabilitasi hutan bakau dengan penanaman sekitar 55.000 pohon bakau di Teluk Lhok Weng Iboih, Ceuneuhot-Jaboi dan Krueng Raya,” kata Ismid.

Atas dana bantuan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dodent masuk ke sekolah-sekolah SMA dan menunjukkan gambar-gambar untuk merangsang anak-anak melindungi ekosistem pesisir. Ia juga menyebarkan bahan bacaan yang mendidik. Selain itu, sebagai upaya perawatan karang, Dodent juga membuat 30 unit muoring buoys yang berfungsi menambat jangkar perahu nelayan. ”Yang utama, ia memperbaiki ekosistem. Di sisi lain, berkat rintisannya, maka kelompok lain juga ikut bergerak. Dampak sosial ekonomi ttu yang luar biasa,” Ismid menambahkan. (By: Sukmono Fajar Turido)

LINGKUNGAN
GATRA No 34 / XVI 14 Jul 2010

Istana Paku Alam

Istana Paku Alam merupakan istana dengan kekuasaan yang berdiri sendiri atas bantuan Inggris untuk Natakusuma yang bergelar Paku Alam I pada tahun 1812 dengan sejumlah wilayahnya di timur Sungai Code dan sebagian lagi berada di mancanegara.  (By: Septa Agung Kurniawan)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.